Sabtu, 28 Maret 2009

juaL pRoduk rajutAn


haLLow bUat kaMu-kAmu y9 Lg nYari akSesoris, kiTa punYa pRoduk aKsesoris bAru ni.. bAhannya dAri benaNg woL. beRAneka rAgam pRoduk juGa kiTa sediain buAt kEbutuhan kAmu.,.
kAmu biSA Liat foTho-fhoto pRoduknyA di bAwah.,.
okEy..

brOss





bRoss ini adA yaNg 1 tingkat, 2 tingkAt, 3 tinGkat, seRta ada yang berbentuk guLungan sEperti gAmbar diSamping.

jEpitan rAmbut






tEmpAt hP









bErbagai pRoduk dan piLihan wArna LAinNya dApat anDa pEsan kEpada kAmi,.,..
bebErapa pRoduk LainnYa anTara Lain; kupLuk bAyi, tEmpat nEt bOok, geLang, gAntungan HP, dLL yg sEmua teRbuat dAri hasiL rajuTan benAng woL.

hArga juaL teRgantung tinGkat kesuLitan dAn bAhan yaNg diguNakan

Rabu, 18 Maret 2009

iLmu peNgetahuan VS fiLsafat

Jika kita tinjau jauh kebelakang, maka kita akan tahu bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat dahulunya hidup berdampingan dan saling melengkapi. Seiring berjalannya waktu peradaban manusia terus bergulir dan berkembang yang pada akhirnya membuat filsafat dan ilmu pengetahuan terpisah.

Dalam sejarah kehidupan manusia, khususnya kebudayaan Yunani dan kebudayaan Barat, hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat mengalami pasang surut. Masa klasik hubungan tersebut terjalin baik dan dinamis, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan. Thales, Herakleitos, Aristoteles adalah filosof sekaligus ahli ilmu alam, ahli matematika, dan ahli logika.

Sampai abad ke-17 peran filosof-ilmuwan masih dominan dalam bidang pemikiran dan filsafat, misalnya Leibniz (1646-1716), seorang sejarawan sekaligus ahli matematika. Descartes (1598-1650), ahli geometri analitik dan turut membangun teori refraksi cahaya pada optik.Blaise Pascal ahli matematika berbakat yang telah menciptakan perhitungan-perhitungan kalkulus yang banyak digunakan pada bidang matematika di kemudian hari. Dominasi figur filosof-ilmuwan tersebut berlangsung hingga masa Immanuel Kant. Kant adalah figur filosof-ilmuwan terakhir yang pernah muncul dalam sejarah pemikiran. Ia adalah ahli matematika, pionir pengembangan geografi, fisika, sekaligus ahli ilmu alam. Karyanya, misalnya “teori langit” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis (Theorie du ciel, 1755), dan dinilai para fisikawan sebagai satu diantara karya yang memberi gagasan awal pada bidang kosmologi modern (bid, h. 17). Setelah era Kahn, seiring dengan langkanya tokoh filosof-ilmuwan, hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan semakin renggang, bahkan saling menidakkan dan saling menyerang satu sama lain.

Sepanjang Abad ke-19 pertikaian filsafat dan ilmu pengetahuan tidak membawa harapan lagi. Sejak itu ilmu pengetahuan menempuh jalannya sendiri yang semakin otonom, dan melakukan pemujaan atas metode ilmiah untuk penemuan kebenaran objektif berdasar hubungan antar fakta teramati. Kesimpulan ilmiah yang dihasilkannya selalu dirumuskan setelah melewati tahap observasi, penjernihan data, pengujian teori-teori dalam kaitannya dengan hubungan realitas yang berulang-ulang. Sementara perkembangan fisafat semakin bebas, skeptis, dan menjauh dari metodologi ilmu pengetahuan.

Salah satu objek persoalan yang memicu pertikaian filsafat dengan ilmu pengetahuan adalah bidang metafisika, yang mendefinisikan sesuatu yang terdapat di balik alam fisik jangkauan indrawi manusia. Pertanyaan penting dalam masalah ini: Apakah sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indra dan rasio adalah sesuatu yang tidak ada? Sepanjang sejarah banyak penolakan yang dilakukan terhadap metafisika. Diantaranya gerakan pemikiran antimetafisika, peran Lingkaran Wina (Wiener Kreis) di bawah Moritz Schlick, Rudolf Carnap, serta peran Ludwig Wittgenstein. Bahkan Steven Weinberg, pemenang nobel fisika, dalam satu bab karyanya yang berjudul “kontra terhadap filsafat” dalam mimpi teori tertinggi. Dalam karya tersebut beliau mengatakan bahwa filsafat tidak memberi pengetahuan apa pun terhadap manusia, termasuk kontribusi pada pengetahuan ilmiah, baik langsung maupun tidak langsung.

Jika filsafat dituduh tidak memberi manfaat pada ilmu pengetahuan, sebaliknya filsafat menilai ilmu pengetahuan semakin arogan dan telah mereduksi rasio pada rasio instrumentalis-teknik semata demi tujuan tertentu. Akibatnya, pada pertengahan pertama Abad ke-20, Eropa dilanda krisis ekonomi dan moral, penyebabnya adalah ilmu pengetahuan yang tak terkontrol. Krisis tersebut mengakibatkan ilmuan dan filosof mengecam ilmu pengetahuan. Husserl (1859-1938) menulis esei terkenal, Krisis Ilmu Pengetahuan Eropa (La crise des sciences europeenes), yang berisi kritikan bahwa krisis kesadaran yang muncul di Eropa disebabkan sebagian besar oleh perkembangan buta pemikiran ilmiah. Bangunan ilmu pengetahuan bercorak matematis, mekanis, objektif, dan kaku, sehingga pengosongan dunia, alam, dan hidup dari pelbagai penandaan telah berlangsung dengan parah. Berhadapan dengan kegersangan hidup, ilmu pengetahuan tidak dapat mengatakan sesuatu kepada kita (Herbert Marcuse, One-Dimentional Man, 1964)

Catatan:
Hal di atas hanyalah bagian dari sejarah yang terus bergulir dimana nantinya kita akan sampai pada titik dimana kita harus memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama. Ilmu pengetahuan dengan metode ilmiahnya tidak akan sanggup menjelaskan persoalan-persoalan yang tidak dapat dijelaskan dengan logika, kasat mata, serta semua rahasia tuhan yang maha besar.

Hal yang menarik dan mungkin disesalkan disini yaitu terjadinya pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat karena terus terlihat jarak antara keduanya sampai sekarang. Orang-orang yang menggunakan metode ilmiah dengan pengoptimalan benefit telah mengesampingkan nilai-nilai, estetika, dan norma yang terdapat dalam filsafat. Sehingga terjadi pemanfaatan sumber daya yang bersifat rakus yang menyebabkan ketidak stabilan ekosistem, kerusakan alam, masalah sosial dan lain sebagainya.

Sebagai bahan renungan:
• Hutan yang rusak akibat penebangan yang terus-menerus dan tak terkendali
• Global warming akibat penggunaan energi yang berlebih (emisi karbon) dan rusaknya hutan
• Masalah-masalah sosial lainnya akibat hilangnya nilai-nilai, estetika, dan norma-norma pada masyarakat.